Muhammad Roem Rahman

Hanya bisa saling berbagi.

Keindahan Pantai Malimbu - Lombok

Dingin sore hari dengan tiupan angin menikmati keindahan Pantai Malimbu sebagai Peserta AIV 2012

Tak Perlu ada warna

Akankah semua yang indah itu memiliki warna...

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

CARA MENGATASI "Belum Simpan/Periksa Semua Tab" / GAGAL KIRIM PUPNS level1

Cara berikut ini khusus bagi rekan-rekan yang telah menyelesaikan seluruh isian yang ada pada ePUPNS, Posting ini dibuat karena banyak sekali pertanyaan mengenai solusi gagal kirim pada PUPNS, terus terang saja saya pribadi belum pernah mengalaminya dikarenakan belum melakukan pengiriman untuk menghindari hal-hal yang diinginkan, Jadi ya saya googling saja, dan menemukan trik ini dari salah satu blog pendidikan, mudah-mudahan bisa membantu, lalu kemudian saya repost disini, Dan apabila anda sudah siap kirim dan berencana akan melakukan pengiriman data ada baiknya memperhatikan hal-hal berikut ini, dan bagi yang sudah pernah mengalami gagal kirim, berikut ini solusinya


Solusi Gagal Kirim Verifikator Level 1 di PUPNS 2015:
1. Saat anda sudah mengklik tanda Kirim pada bagian atas paling kanan (pastikan data anda sudah benar)
2. ada pertanyaan "Apakah anda yakin ingin mengirim? Data tidak dapat diubah kembali setelah dikirim." jika sudah yakin klik "OK"
 3. Akan muncul "Belum Simpan/Periksa Semua Tab" dan anda disuruh untuk memeriksa semua TAB
 4. Solusi Gagal Kirim Verifikator Level 1 di PUPNS 2015 - Anda akan mengulang/kembali ke semua tab dibuka yang ada kata-kata simpan Klik simpan sampai dari Data Utama, Data Posisi, Data Riwayat semuanya buka, Data Guru, Data Dokter, dan yang terakhir adalah Stakeholder. Yang ada menu Simpan paling di Data Utama dan Data Posisi lainnya anda buka-buka saja karena ada pertanyaan "Belum Simpan/Periksa Semua Tab".
5. Sudah selesai akhirnya terkirim dan muncul laman verifikator SKPD masing-masing, setelah itu klik perintah cetak untuk menampilkan pada format pdf


 6.Jangan lupa untuk menyimpan agar memiliki file dalam format pdf
 Mudah bukan, selanjutnya anda yang mempraktekkan... :) 
 

Benarkah Rokok Bisa memberi Inspirasi..?!!?

Rokok merupakan sebuah benda yang berukuran sepanjang jari tangan dengan isinya tembakau yang telah digiling. Rokok dipercaya bisa memberikan banyak efek dan stigma, salah satunya kepada unsur gaya dan merasa hebat. Rokok juga sudah menjadi benda yang paling banyak dikonsumsi masyarakat dunia, termasuk Indonesia, bahkan melebihi nasi atau gandum sebagai makanan pokok.
Di luar hal itu, rokok sendiri mempunyai banyak efek buruk yang juga besar. Banyak kandungan yang tidak bagus untuk kesehatan tubuh. Sebut saja Nikotin sebagai zat yang membuat pengisapnya menjadi candu. Nikotin sendiri menjadi pemicu risiko timbulnya penyakit sangat berbahaya, jantung koroner. Selain itu, masih sangat banyak kandungan zat buruk lainnya yang dikandung dalam sebatang rokok.
Meskipun begitu, rasanya sulit untuk mereka yang telah menjadi candu untuk berhenti mengisap rokok. Hal itu dikarenakan berbagai alasan, salah satunya inspirasi? Banyak orang beranggapan rokok mendekatkan kita dengan inspirasi. Benarkah demikian?
1. Merokok dan melamun
(Benarkah) Rokok Bisa Memberikan Inspirasi 3
Kegiatan merokok dan melamun seringkali dilakukan karena kedua hal tersebut sudah menjadi satu paket. Konon inspirasi pun datangnya ketika kita melakukan dua hal tersebut. Terlebih untuk seorang penulis, inspirasi yang terkadang sulit didapatkan bisa banyak mendekati ketika dua jari telah mengapit sebatang rokok.
Tidak sedikit orang yang percaya dan membiasakan untuk melakukannya. Bagi mereka itulah yang bisa memberikan banyak ide. Perasaan tenang akan datang ketika filter rokok tersebut diisap oleh bibir. Sontak ribuan ide bermunculan.
2. Satu paket dengan kopi
(Benarkah) Rokok Bisa Memberikan Inspirasi 2
Banyak orang yang bilang bahwa tidak akan puas ketika mengisap rokok tanpa ditemani dengan secangkir kopi. Ya, antara kopi dan rokok memang sudah menjadi paket bagi mereka yang menggemarinya. Jarang sekali orang yang suka merokok, namun tidak suka meminum kopi.
Dari keduanyalah inspirasi yang sempat hilang bisa muncul kembali. Aroma kopi yang dipadukan dengan isapan rokok dipercaya mengembalikan memori bagus untuk mereka. Suasana yang begitu tenang menurut mereka sangat cocok untuk mendatangkan ribuan ide cemerlang.
3. Rokok dan gitar

(Benarkah) Rokok Bisa Memberikan Inspirasi 1
Sama halnya dengan kopi, gitar juga bisa memberikan banyak inspirasi, terlebih dalam menulis lirik lagu atau puisi. Alunan petikan senar gitar yang merdu ketika malam akan memberikan banyak sentuhan lembut bagi pikiran. Kedua hal ini bisa dilakukan berbarengan saat sedang menyendiri. Ide memang bisa datang kapan saja dan melintas begitu saja.
Di saat seperti itulah lamunan, kopi, petikan gitar, dan rokok sendiri mampu menangkap semua ide yang sering beterbangan tanpa kejelasan. Namun kita pun harus tetap sadar bahwa rokok memberikan efek buruk untuk kesehatan. Sejatinya untuk menggali sebuah inspirasi bisa dilakukan dengan hal lainnya. Akan tetapi, pilihan kembali ke tangan kita.

sumber : penulispro.net

Kenapa Harus ada PR untuk siswa..?

Bapak Ibu guru pernah memberikan tugas kepada para siswa? Baik tugas untuk dikerjakan di sekolah saat Bapak/Ibu meninggalkan kelas untuk urusan tertentu yang sangat penting ataupun tugas untuk dikerjakan di rumah yang lebih dikenal sebagai Pekerjaan Rumah (PR). Tentu semua pernah ya..? Pernahkan Bapak/Ibu guru menemukan siswa yang malas mengerjakan PR? Sehingga tidak mengumpulkan PR dan Bapak/Ibu merasa terhambat dalam kegiatan belajar mengajar?  Sudahkah Bapak/Ibu menanyakan ke siswa alasan tidak mengerjakan tugas/pe-er?

PR dan Tujuannya
Pekerjaan Rumah (PR), dalam bahasa Inggris disebut homework atau homework assignment merupakan sejumlah aktivitas tugas yang diberikan oleh guru kepada siswa untuk dikerjakan di luar kelas/sekolah. Pekerjaan rumah bisa bermacam-macam dan bisa dikerjakan secara individu maupun berkelompok.
Pekerjaan Rumah diberikan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa, menambah pengetahuan, mengulang materi yang telah dipelajari di sekolah, menyiapkan siswa mempelajari materi berikutnya, bahkan mengaplikasikan pengetahuan siswa dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Bagi sebagian guru yang belum memahami penugasan atau pemberian PR, pekerjaan rumah mungkin berfungsi untuk mengisi waktu luang siswa saja daripada sekedar main. Guru akan dianggap serius mengajar oleh orang tua ketika si anak di rumah sibuk mengerjakan PR. Tak jarang , banyak orang tua justru minta anak diberi PR yang banyak supaya belajar di rumah.

Beberapa alasan kasus bila guru memberikan PR kepada siswa tidak dikerjakan:

  1.  Lupa kalau ada tugas
  2. Terlalu banyak PR yang diberikan oleh Guru pada waktu bersamaan dan dikumpulnyapun pada hari bersamaan.
  3. Tidak tau soalnya, karena minggu lalu tidak masuk sekolah.
  4. Ada aktivitas lain yang sangat penting.
  5. Tidak bisa mengerjakan
  6. Sedang sedih karena tertimpah musibah sehingga tidak bisa konsentrasi
  7. Malas mengerjakan PR
  8. Bukunya dipinjam teman yang rumahnya jauh.
  9. Gampang mencontek bila dikerjakan disekolah.
  10. Tidak ada buku cetak (buku pedoman)


Apa yang sebaiknya dilakukan guru dalam memberikan tugas/PR?
  • Sampaikan dengan jelas maksud dan tujuan penugasan/pemberian PR.
  • Sesuaikan jenis tugas/PR dengan apa yang sudah guru sampaikan sebelumnya. Jika PR/tugas dimaksudkan untuk persiapan materi berikutnya, sebaiknya sudah ada guideline dan deskripsi tentang materi berikutnya.
  • Berikan tugas/PR secara proporsional mengenai jenis, jumlah dan durasi. PR tidak harus menghabiskan waktu luang siswa, melainkan seberapa dalam mereka belajar melalui tugas/PR tersebut.
  • Berikan variasi tugas atau PR. Sebaiknya PR diberikan secara kontekstual, nyata dalam kehidupan sehari-hari. Anak bahkan boleh memilih tugas/PR sesuai kemampuan dan kesukaan, tetapi tetap dalam materi yang sama.
  • Sampaikan penilaian tugas/PR akan seperti apa sehingga anak akan tahu apa saja yang harus diperhatikan selama mengerjakan PR atau tugas tersebut.
  • Hindari penugasan/PR yang monoton dan seragam misal mengerjakan LKS, buku soal-soal latihan yang akan memungkinkan siswa menyepelekan, saling bergantung kepada teman lain sehingga yang terjadi hanya satu siswa yang mengerjakan dan siswa lain mencontek, Alhasil, semua jawaban tugas/PR sama. Bagaimana guru bisa mengukur dan menilai pemahaman siswa?
  • Koreksi tugas/PR segera setelah siswa mengumpulkan tugas/PR nya dan berikan feedback, lalu kembalikan kepada siswa atau dibahas atau diumumkan atau dipresentasikan. Jika tidak dilakukan, siswa cenderung akan malas mengerjakan tugas/PR berikutnya, atau mengerjakan asal-asalan, yang penting mengumpulkan. Tentu siswa akan berpikir bahwa mengerjakan PR akan sia-sia, bisa mencontek saja dengan mengganti identitas siswa.
Manfaat mengerjakan PR di rumah bagi siswa
Ada bermacam keuntungan yang didapat apabila kita mengerjakan PR, tentunya dikerjakan sendiri ya, bukan dibuatkan orang tua atau orang lain
  1. Berlatih manajemen waktu, disini kita berpikir kira-kira kapan waktu yang tepat untuk membuat PR sehingga tidak berbenturan dengan kegiatan lainya, dengan ilmu manajemen waktu yang bagus maka secara tidak langsung kita telah menjadi orang yang disiplin.
  2. Orang tua senang dan berpikir bagus tentang anaknya, membuka atau melihat kembali pelajaran sekolah dirumah ternyata dapat meyakinkan ortu bahwa kita benar-benar bisa mengikuti pelajaran.
  3. Membaca kembali pelajaran, ilmu yang sudah didapat dari guru di kelas tentu akan lebih dipahami apabila sepulang sekolah  kita mempelajari kembali ilmu tersebut.
  4. Memberikan penghargaan pada diri sendiri, apabila tugas yang kita kerjakan ternyata benar dan mendapat nilai bagus dari guru maka ada kemungkinan kita menjadi bangga dan senang.
  5. Melatih diri agar rajin, sulitnya mengatur diri sendiri maka seringkali muncul rasa malas ketika hendak melakukan aktifitas tertentu, hal ini tentu tidak akan terjadi jika kita sudah biasa berlatih untuk rajin mengerjakan PR.
  6. Menumbuhkan sikap tanggung jawab, setiap tugas yang kita peroleh akan terlaksana dengan baik jika adanya rasa tanggung jawab karena bisa jadi suatu beban pikiran apabila kita tidak mengerjakanya .
  7. Mengembangkan ketrampilan, dengan membaca menulis atau mengerjakan tugas maka ada kemampuan baru yang masuk kedalam diri kita.
Tentu masih banyak ide dari Bapak/Ibu guru mengenai pemberian tugas /PR tersebut, memang menuntut kreativitas  guru untuk memberikan PR, tentu juga agar siswa menjadi kreatif. Sesuaikan jenjang dan materi serta waktu, dan siapkan skema penilaian untuk setiap pilihan tugas/PR. Semoga akan banyak ide baru muncul untuk menumbuhkan kreativitas siswa, bukan membebani siswa dengan banyaknya PR/tugas.

Alhamdulillah, Aplikasi Padamu Negeri Resmi Tidak di Operasikan lagi.

Terbaru 30 Juni 2015, Berikut Surat Pernyataan tentang Penggunaan Dapodik Sebagai Satu Data dalam Dalam Pendataan Guru dan tenaga Kependidikan.

Dikutip dari postingan Ibnu Aditya Karana dan Yusuf Rokhmat di akun Facebook Pribadinya yang mengupload Surat Pernyataan terkait dengan penggunaan Dapodik dan Padamu Negeri, berikut cuplikan Suratnya
Dengan Terbitnya Surat Ini maka PADAMU NEGERI resmi sudah tidak di operasikan lagi, dengan demikian hal-hal yang mengenai pendataan terkait dengan kegiatan mengatasnamakan PADAMUNEGERI tidak menjadi tanggung jawab Direktorat Jenderal Pendidikan dan Tenaga Kependidikan.


Mudah2an ini bisa menjawab kegelisahan para pengeliat data Berikut kami lampirkan surat edaran tentang Penggunaan DAPODIK Dalam Pendataan Guru dan Tenaga Kependidikan
Terima Kasih

Download Surat Pernyataan :

Cek SK Tunjangan Dikmen 2015

Surat Keputusan (SK) Penerima Tunjangan Profesi merupakan salah satu dasar bagi guru untuk dapat menerima pembayaran tunjangan profesi. SK ini diterbitkan oleh direktorat masing-masing jenjang. Untuk jenjang dasar diterbitkan oleh Direktorat P2TK Dikdas dengan menggunakan aplikasi DAPODIKDAS sebagai sumber data penerbitan SK Tunjangan. SK yang telah terbit dapat dicek secara online melalui aplikasi tersendiri yang telah disiapkan oleh P2TK Dikdas.
Untuk jenjang menengah usulan penerbitan SK Tunjangan menggunakan aplikasi data komputer (ADK). Selanjutnya menggunakan data ADK ini SK Tunjangan diproses oleh Direktorat P2TK Dikmen. SK yang telah terbit kemudian dikirimkan ke Dinas Pendidikan masing-masing Kabupaten. Saat ini penerbitan SK Tunjangan untuk jenjang Dikmen dikeluarkan secara bertahap sehingga dibeberapa daerah guru-guru merasa resah kenapa SK tidak diterbitkan bersamaan.
Secara online P2TK Dikmen memberikan fasilitas untuk melihat apakah SK Tunjangan Guru yang diolah menggunakan ADK telah terbit atau belum. SK dapat dilihat pada situs ptkdikmen.net dengan memilih menu Cek SK Aneka Tunjangan. Dari laman ini pengguna akan diarahkan ke sebuah halaman lain yang memuat data Guru yang telah keluar SK Tunjangannya baik Profesi maupun tunjangan lain untuk Guru Negeri maupun Swasta.
Data yang ditampilkan berupa daftar nama yang terpampang dalam sebuah tabel. Untuk mencari secara tepat nama PTK yang telah terbit SK-nya dapat dilakukan melalui sorting data sesuai dengan filter dan kata kunci yang sesuai misalnya tempat tugas, Nama PTK atau yang lainnya. Contoh seperti gambar di bawah ini:

Setelah data yang dicari ditemukan, klik segitiga pada data yang akan dilihat SKnya. Pada detil data tersebut akan terlihat nomor SK Tunjangan Profesinya, jika belum ada maka SK-nya belum diterbitkan. Contoh pada gambar di bawah ini:
nomor sk
Walaupun SK Tunjangan sudah dapat diakses secara online, pengguna masih harus sabar karena terkadang aplikasi ini dapat diakses dengan cepat namun terkadang juga masih mengalami kendala.
Penasaran.....? Silahkan cek langsung SK Tunjangan Profesi Guru Dikmen di http://ptkdikmen.net/anekatunjang/




sumber: berguru.net

10 Ciri Guru yang Disenangi Siswa

Menjadi seorang guru bukanlah persoalan yang bisa dianggap mudah atau terlalu sulit, terlebih lagi interaksi baik didalam kelas maupun diluar kelas. dalam kenyataannya ada guru yang disenangi oleh siswa ada juga yang tidak disenangi bahkan dibenci oleh siswanya..
Berikut ini adalah 10 Ciri-ciri guru yang disenangi siswa yang wajib anda ketahui.

1. Guru yang Menguasai Materi Pelajaran. Hal ini sangat penting dalam proses pembelajaran, sehingga jika muncul pertanyaan dari siswa, guru dapat menjawabnya dengan sangat mudah. Jika pun guru belum dapat menjawab pertanyaan siswa, guru model ini dapat memberikan beberapa alternatif sebagai jawaban yang memuaskan atau setidaknya cukup untuk menjawab pertanyaan dari siswanya

2. Guru yang Memahami Metode Pembelajaran. Dengan memahami metode pembelajaran yang digunakannya saat mengajar, guru model ini dapat menyampaikan materi pembelajaran disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dari tujuan pembelajaran, sehingga siswapun dapat memahami semua yang diajarkan oleh guru tersebut.

3. Guru yang Memahami Gaya belajar Anak. Seperti yang kita tahu bahwa kita mengenal tiga jenis gaya belajar anak, diantaranya yaitu Audio, Visual dan kinestetik. Guru model ini dapat menentukan gaya belajar yang dikuasai oleh siswa tertentu, sehingga setiap siswa dapat memahami setiap yang diajarkan oleh guru berdasarkan gaya belajar anak tersebut.

4. Guru Memahami psikologi perkembangan anak. Guru model ini dapat mengetahui sebab mengapa seorang siswa berbuat sesuatu, sehingga jikapun siswa melakukan suatu kesalahan maka guru tersebut dengan cepat dan tanggap dapat mengubah siswa tersebut supaya beralih kepada perbuatan yang baik yang hendak dicapai dari tujuan pendidikan.

5. Guru yang Berpenampilan Menarik. Guru model ini tidak berarti harus selalu ganteng atau cantik, tetapi guru yang mampu menarik perhatian siswa kepada dirinya sehingga akan lebih mudah mengantarkan siswa kepada tujuan pembelajaran yang diajarkannya.

6. Guru yang Humoris. Guru model ini dapat mencairkan suasana belajar yang serius menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Guru yang humoris dapat merebut hati sang anak, sehingga pada akhirnya juga dapat merebut perhatian anak untuk belajar dengan sebaik-baiknya.

7. Guru yang Menjadi contoh atau teladan. Guru model ini lebih suka mengajak dari pada menyuruh.

8. Guru yang  Adil dan Penyabar. Guru model ini sangat memahami bahwa kenakalan anak sesungguhnya merupakan bagian dari sistem pembelajaran. Yang biasa diterapkan oleh guru ini adalah punishment and reward, atau memberikan hukuman yang wajar kepada siswa yang bersalah, dan memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi.

9. Guru yang Up To date. Guru model ini dapat berkembang lebih cepat dari dari pada perkembangan zamannya, sehingga dapat cepat menanggapi setiap permasalahan yang timbul dari para siswa.

10. Guru yang Tidak Gaptek alias gagap teknologi. Guru model ini sudah pasti akan sangat disenangi siswa, karena dapat menangkap dan memantau setiap perkembangan yang terjadi pada diri siswa melalui berbagai perangkat yang juga digunakan oleh para siswa tersebut.

Itulah 10 Ciri-ciri guru yang disenangi oleh siswa. Semoga bermanfaat...


sumber : kuipperschool.com

Harapan Baru setelah Resim UN

Rezim ujian standar pendidikan secara nasional, secara singkat kita sebut UN, sudah berkuasa dalam beberapa dekade di Indonesia. Menteri datang dan pergi silih berganti, kurikulum berubah dari bandul satu ke bandul yang lain, tetapi semua takluk pada rezim ini.
Rezim UN sangat berpengaruh dalam mengatur mobilitas sosial dan ekonomi para siswa dari berbagai jenjang. Tak mengherankan, kesakrakalannya harus dijaga sebagai “Rahasia Negara”, diinapkan di kantor polisi sebelum diberikan kepada siswa, bahkan Densus Anti Teror pun ikut terlibat mengawalnya.

Namun, sebuah rezim yang begitu berkuasa tiba-tiba runtuh terkulai di tangan pemerintahan baru yang menyatakan UN bukan satu-satunya alat menentukan kelulusan siswa, melainkan sarana pemetaan untuk membantu menyusun kebijakan. Reaksi beragam pun mulai muncul.
Seorang kepala sekolah mengeluhkan anak didiknya yang tidak lagi bersemangat belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi UN (Kompas, 26 Januari 2015). Para kepala daerah kehilangan “mainan” untuk membuktikan kepada publik keberhasilan program pendidikan mereka. Para guru kebingungan bagaimana membuat siswa mereka disiplin sampai ada oknum yang bertindak ekstrem dengan menghukum siswanya hingga meninggal hanya karena tak mengerjakan pekerjaan rumah. Saat tawuran pelajar kembali merebak dan melibatkan siswa-siswa senior, ketiadaan UN pun dijadikan sebagai kambing hitam.

Jati diri sekolah
Inilah situasi masyarakat yang disebut sosiolog terkemuka, Emile Dukheim (1897), sebagai situasi ‘anomie’, di mana  tatanan baru belum terbentuk dengan sempurna dan banyak pihak yang menginginkan kembali pada tatanan lama dengan iming-iming “Enak jamanku tho, le?” (Lebih enak di zaman saya kan, Nak?) Dalam situasi yang masih galau inilah, perlu keteguhan hati dari segenap jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengantar segenap pemangku kepentingan dunia pendidikan dalam visi yang sama.
Filsuf Driyarkara (1950) dengan lugas menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan memiliki peran yang sama dengan institusi sosial lain seperti keluarga, kelompok agama, dan kelompok masyarakat, dalam membentuk para manusia muda ini sehingga menjadi manusia yang utuh.
Untuk jadi manusia yang utuh, para siswa ini terlibat dalam proses pembelajaran bersama dengan para guru mereka, baik sebagai mentor ataupun fasilitator. Namun, rezim UN sudah mereduksi sekolah jadi tempat persiapan ujian, yang  secara substansif tidak berbeda dengan sejumlah lembaga bimbingan belajar yang selalu tumbuh bak jamur di musim hujan menjelang UN atau ujian standar lain.
Rezim UN sudah membuat para manusia muda ini hanya dihargai sebatas nilai-nilai kuantatif semata. Sungguh sebuah degradasi eksistensi yang begitu rendah atas diri manusia-manusia muda ini. Padahal, dalam dunia nyata, seorang Rudi Hartono yang juara badminton; Rudy Hadisuwarno yang penata rambut atau  Rudi Salam yang aktor  tidak lebih rendah kemanusiwiannya bahkan kecerdasannya dibandingkan dengan Rudi Habibie yang bisa merancang pesawat.
Membandingkan para “Rudi” muda ini dalam sebuah penggaris yang sama jelas bukan merupakan tujuan membangun sekolah. Apalagi, rezim UN sudah mengabaikan keanekaragaman situasi sosial ekonomi di Indonesia dengan memakai Jawa perkotaan sebagai standar yang harus diikuti semua wilayah di Indonesia. Karena itu, penghilangan kekuasaan UN sebagai penentu kelulusan siswa jelas mengembalikan sekolah pada jati diri sesungguhnya.
Seiring pudarnya kekuasaan rezim UN, peran guru jadi sangat penting dalam memanusiakan para manusia muda ini. Pada APBN tahun ini saja, pemerintah dan DPR sudah menggelontorkan dana lebih dari Rp 60 triliun hanya untuk menambah tebal dompet para guru lewat dana sertifikasi guru sehingga bisa fokus untuk membimbing anak didik mereka. Kebijakan ini harus dibalas oleh para guru dengan menunjukkan kinerja yang semakin profesional.

Guru dan multi-kecerdasan
Runtuhnya rezim UN harus disambut gembira para guru bidang studi yang selama ini disepelekan siswa karena tidak masuk dalam materi UN, seperti Pendidikan Seni dan Pendidikan Jasmani. Pada masa rezim UN masih berkuasa, pemerintah begitu giat “membuktikan” keberhasilan pendidikan kita dengan mengirimkan para siswa pilihan untuk mengikuti berbagai olimpiade Matematika dan Sains tingkat internasional.
Akan tetapi, usaha ini tidak lengkap dan cenderung mengistimewakan guru dan mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Padahal, pandangan sempit ini sudah ditentang oleh pemikiran Howard Gardner (1983) tentang  multiple intelligences yang menguraikan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya ditentukan oleh IQ yang mendasarkan dari logika matematika dan bahasa, tetapi juga meliputi segenap aspek kemanusiaan yang lain, seperti kecerdasan kinestetik tubuh, musik, ruang-visual, alam, interpersonal, dan intrapersonal.
Dengan pemahaman multiple intelligence ini, para siswa, guru, dan orangtua akan menyambut datangnya hari konser atau invitasi olahraga sekolah seperti mereka mempersiapkan UN. Untuk itu, para siswa akan bergairah mengasah kecerdasan musik mereka dalam paduan suara, band maupun orkes simfoni. Demikian juga dalam bidang olahraga, para siswa melatih diri mengembangkan kecerdasan kinektetik tubuh saat mengocek bola atau mengayunkan raket badminton.
Saat hari konser atau pertandingan tiba, mereka semua memang merasakan kekhawatiran, apakah para siswa itu akan tampil dengan prima seperti yang selama ini dilatihkan, tetapi ada kegembiraan saat melihat para tunas-tunas muda ini tampil memainkan alat musik dengan percaya diri atau bersalaman dengan satria saat timnya belum meraih kemenangan. Inilah perwujudan revolusi mental yang tidak harus disampaikan dengan kata-kata sampai berbusa-busa.
Runtuhnya rezim UN juga memberi kesempatan pada para guru-guru bahasa dan ilmu sosial dalam mempertinggi daya intelektualitas anak dalam hierarki pemikiran yang tinggi, seperti melakukan analisis, sintesis, dan berpikir kritis. Rezim UN jelas tak akan mampu mengolah hal ini mengingat hanya ada satu jawaban benar  dari soal pilihan ganda, padahal dalam hidup tiada jawaban tunggal atas persoalan kemanusiaan.
Hilangnya pengaruh UN juga bukan musibah untuk para guru matematika dan ilmu alam, tapi justru memperkaya pengajaran mereka selama ini. Dalam pengamatan penulis terhadap para siswa Indonesia jenjang pendidikan menengah dan dasar yang mendapat kesempatan pendidikan di Amerika, mereka tampak sangat hafal dengan rumus dan bisa menyelesaikan soal hitungan dengan lebih cepat dibanding rekan sejawatnya. Akan tetapi saat mereka harus mengaplikasikan rumus tersebut dalam soal seperti dalam kehidupan sehari-hari, mereka gagap.
Dengan kesadaran akan multiple intelligence ini, para pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia hendaknya mulai melihat bahwa  patahnya sayap UN bukanlah malapetaka. Justru runtuhnya kemahakuasaan UN ini akan membawa perspektif baru yang semakin luas bagi siswa, guru, orangtua dan segenap masyarakat bahwa kemajuan bangsa di masa depan akan kian cerah
Y Nugroho Widiyanto  ;  Kandidat Doktor Ohio State University;

Dosen FKIP Unika Widya Mandala Surabaya